Ada masa ketika menjalankan bisnis terasa jauh lebih sederhana.
Pesanan masuk, langsung diproses. Kalau ingin tahu stok, tinggal bertanya kepada orang gudang. Ada pelanggan yang membutuhkan sesuatu, bagian penjualan bisa langsung menyampaikannya kepada orang yang bersangkutan.
Bahkan kalau ada masalah, biasanya cukup kumpul sebentar dan selesai.
Lalu bisnis mulai berkembang.
Pelanggan bertambah, karyawan semakin banyak, transaksi semakin ramai, dan pekerjaan yang harus ditangani juga ikut bertambah. Pemilik bisnis yang sebelumnya bisa mengetahui hampir semua hal, perlahan mulai kesulitan mengikuti apa yang terjadi di setiap bagian.
Anehnya, di saat angka penjualan meningkat dan bisnis terlihat semakin maju, pekerjaan sehari-hari justru terasa semakin rumit.
Informasi lebih sulit dicari. Koordinasi lebih panjang. Kesalahan kecil lebih sering terjadi. Hal yang dulu bisa selesai dalam hitungan menit, sekarang terkadang membutuhkan beberapa orang.
Di titik seperti ini, muncul pertanyaan yang cukup menarik: bisnisnya yang semakin besar, atau cara kerjanya yang memang sudah tidak cukup untuk mengimbanginya?
Dulu Satu Orang Bisa Menangani Banyak Hal
Ketika perusahaan masih kecil, satu orang biasanya memegang beberapa pekerjaan sekaligus.
Pemilik bisa ikut mengurus penjualan, mengecek stok, memantau keuangan, bahkan sesekali ikut menangani pelanggan.
Hal tersebut bukan masalah karena jumlah aktivitasnya masih terbatas.
Namun ketika bisnis berkembang, pembagian pekerjaan mulai diperlukan.
Ada orang yang fokus pada penjualan. Ada yang mengurus keuangan. Ada bagian operasional, gudang, pemasaran, sumber daya manusia, dan sebagainya.
Pembagian ini tentu bagus karena pekerjaan menjadi lebih spesifik.
Tetapi ada konsekuensi lain yang muncul.
Semakin banyak orang yang terlibat, semakin banyak pula komunikasi yang harus dilakukan.
Bagian penjualan membutuhkan informasi dari gudang. Gudang membutuhkan informasi mengenai pesanan. Keuangan membutuhkan data transaksi. Manajemen membutuhkan laporan dari berbagai bagian.
Satu pekerjaan akhirnya tidak lagi hanya melibatkan satu orang.
Dan semakin banyak orang yang terlibat, semakin penting pula bagaimana informasi tersebut berpindah dari satu bagian ke bagian lainnya.
Masalah Kecil Bisa Menjadi Besar
Kekacauan dalam bisnis sering kali tidak dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang hanya karena satu data belum diperbarui.
Misalnya, stok di catatan menunjukkan masih ada 20 barang. Ketika bagian penjualan menerima pesanan, angka tersebut digunakan sebagai acuan. Setelah dicek ke gudang, ternyata stok sebenarnya tinggal 12.
Masalahnya terlihat sederhana.
Tetapi dari satu perbedaan data tersebut bisa muncul masalah lain. Pesanan harus dikonfirmasi ulang, pelanggan harus menunggu, bagian penjualan perlu menjelaskan kondisi tersebut, dan bagian lain mungkin ikut terdampak.
Hal seperti ini mungkin tidak terasa jika hanya terjadi sekali.
Namun bagaimana jika terjadi setiap hari?
Begitu juga dengan pekerjaan administratif.
Satu data dimasukkan ke spreadsheet, kemudian disalin lagi ke dokumen lain. Setelah itu harus direkap sebelum diberikan kepada bagian berikutnya.
Tidak ada satu pekerjaan yang terlihat sangat berat.
Tetapi ketika pekerjaan kecil tersebut dilakukan ratusan kali, waktu yang terbuang menjadi tidak sedikit.
Ketika Spreadsheet Mulai Tidak Lagi Cukup
Spreadsheet sebenarnya sangat membantu banyak bisnis.
Untuk mencatat data sederhana, membuat laporan, menghitung angka, atau memantau pekerjaan tertentu, spreadsheet masih menjadi alat yang praktis.
Masalahnya bukan pada spreadsheet.
Masalah muncul ketika kebutuhan perusahaan sudah jauh lebih besar daripada kemampuan cara kerja yang digunakan.
Bayangkan sebuah perusahaan yang memiliki beberapa cabang.
Masing-masing cabang memiliki file sendiri. Ketika manajemen ingin mengetahui kondisi seluruh cabang, seseorang harus mengumpulkan data tersebut terlebih dahulu.
Jika datanya sedikit, mungkin tidak menjadi persoalan.
Tetapi jika jumlah transaksi sudah ribuan dan perubahan terjadi setiap hari, proses tersebut bisa menjadi pekerjaan tersendiri.
Belum lagi kemungkinan ada file yang belum diperbarui, data yang tertukar, atau angka yang berbeda antara satu laporan dengan laporan lainnya.
Pada akhirnya, orang-orang di dalam perusahaan bisa menghabiskan banyak waktu bukan untuk menyelesaikan pekerjaan utama, tetapi untuk memastikan data yang digunakan sudah benar.
Jangan Terburu-buru Menyalahkan Karyawan
Ketika pekerjaan mulai berantakan, orang yang paling mudah disalahkan biasanya adalah orang yang melakukan pekerjaan tersebut.
Ada data yang salah, karyawannya dianggap kurang teliti.
Ada pekerjaan yang terlambat, karyawannya dianggap kurang cepat.
Ada informasi yang tidak sampai ke bagian lain, komunikasi antarpegawai dianggap buruk.
Padahal, bisa saja masalahnya bukan di situ.
Bayangkan seseorang harus memasukkan data yang sama ke tiga tempat berbeda setiap hari.
Seberapa lama pekerjaan itu bisa dilakukan tanpa pernah melakukan kesalahan?
Atau seorang karyawan harus mencari informasi dari beberapa file sebelum bisa memberikan satu jawaban kepada atasannya.
Mungkin orang tersebut bukan tidak bekerja dengan baik.
Mungkin proses kerjanya memang membuat pekerjaan menjadi lebih sulit.
Karena itu, sebelum menambah target atau menambah orang, ada baiknya perusahaan melihat kembali proses yang sedang berjalan.
Apakah memang membutuhkan lebih banyak tenaga?
Atau ada pekerjaan tertentu yang sebenarnya bisa dibuat lebih sederhana?
Bisnis yang Tumbuh Membutuhkan Cara Kerja yang Berbeda
Ada hal yang sering dilupakan ketika bisnis berkembang.
Yang bertambah bukan hanya pendapatan.
Jumlah pelanggan bertambah. Data bertambah. Transaksi bertambah. Karyawan bertambah. Cabang bertambah. Jenis pekerjaan juga semakin beragam.
Artinya, tingkat kerumitan bisnis ikut bertambah.
Cara kerja yang cocok untuk perusahaan dengan 10 karyawan belum tentu cocok ketika jumlahnya sudah menjadi 100.
Bukan karena cara lama tersebut buruk.
Cara tersebut mungkin memang sudah tidak dibuat untuk menangani kondisi yang sekarang.
Di sinilah perusahaan biasanya mulai melakukan berbagai penyesuaian.
Ada yang memperbaiki SOP. Ada yang membagi tanggung jawab dengan lebih jelas. Ada yang membuat alur persetujuan lebih terstruktur. Ada juga yang mulai menggunakan sistem digital untuk pekerjaan tertentu.
Tidak semuanya harus dilakukan sekaligus.
Yang penting adalah menemukan bagian mana yang paling membutuhkan perubahan.
Teknologi Bisa Membantu, Tetapi Bukan Tujuan Utamanya
Ketika membicarakan perbaikan proses kerja, teknologi sering menjadi salah satu pilihan.
Namun menurut saya, perusahaan tidak seharusnya menggunakan teknologi hanya karena ingin terlihat modern.
Yang lebih penting adalah masalah apa yang ingin diselesaikan.
Jika masalahnya adalah pencatatan stok, mungkin perusahaan membutuhkan sistem yang membuat data persediaan lebih mudah dipantau.
Jika masalahnya adalah pengelolaan proyek, mungkin yang dibutuhkan adalah cara yang lebih sederhana untuk melihat tugas, tenggat waktu, dan perkembangan pekerjaan.
Jika masalahnya adalah banyaknya proses yang masih dilakukan secara manual, otomatisasi pada bagian tertentu mungkin bisa membantu.
Jadi, bukan soal memiliki aplikasi sebanyak-banyaknya.
Justru semakin besar perusahaan, semakin penting untuk memilih teknologi berdasarkan kebutuhan nyata.
Hal ini juga menjadi alasan mengapa kebutuhan setiap perusahaan terhadap aplikasi bisa berbeda. Sebuah aplikasi yang cocok untuk satu perusahaan belum tentu sesuai untuk perusahaan lain karena alur kerja dan kebutuhan masing-masing memang tidak selalu sama.
Dalam kondisi tertentu, perusahaan akhirnya mempertimbangkan aplikasi yang dapat disesuaikan dengan proses bisnisnya. Pendekatan tersebut biasanya dibahas dalam konteks mengapa perusahaan membutuhkan aplikasi custom, terutama ketika sistem yang tersedia belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan operasional.
Tetapi sekali lagi, keputusan tersebut sebaiknya dimulai dari masalahnya, bukan dari keinginan untuk memiliki aplikasi baru.
Tidak Semua Masalah Membutuhkan Sistem Baru
Ini juga penting.
Kalau perusahaan memiliki masalah karena tugas dan tanggung jawab tidak jelas, aplikasi baru mungkin tidak menyelesaikannya.
Kalau proses persetujuan terlalu panjang karena terlalu banyak tahapan yang tidak diperlukan, membeli software belum tentu menjadi jawabannya.
Kalau informasi tidak sampai karena komunikasi antarbagian buruk, teknologi juga tidak otomatis membuat semua orang menjadi lebih komunikatif.
Karena itu, digitalisasi sebaiknya tidak dianggap sebagai obat untuk semua masalah.
Ada masalah yang memang membutuhkan teknologi.
Ada yang cukup diselesaikan dengan memperbaiki prosedur.
Ada pula yang membutuhkan keduanya.
Pertumbuhan Seharusnya Membuat Bisnis Lebih Teratur
Pada akhirnya, pertumbuhan bisnis memang membawa konsekuensi.
Semakin besar perusahaan, semakin banyak hal yang harus dikelola.
Tidak mungkin selamanya semua informasi berada di kepala pemilik. Tidak mungkin pula setiap persoalan diselesaikan hanya dengan bertanya kepada satu orang.
Akan tiba waktunya ketika perusahaan perlu memiliki cara kerja yang lebih terstruktur.
Bukan supaya semuanya menjadi rumit.
Justru sebaliknya, supaya pekerjaan yang semakin banyak tidak membuat orang-orang di dalamnya semakin kewalahan.
Karena itu, ketika sebuah bisnis mulai terasa berantakan setelah berkembang, mungkin pertanyaannya bukan siapa yang harus disalahkan.
Mungkin ada pertanyaan yang lebih penting:
Apakah cara kita bekerja hari ini masih cocok dengan ukuran bisnis kita sekarang?
Kalau jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya bukan hanya menambah orang atau mengejar target baru, tetapi juga memperbaiki cara bisnis tersebut bekerja
Pesanan masuk, langsung diproses. Kalau ingin tahu stok, tinggal bertanya kepada orang gudang. Ada pelanggan yang membutuhkan sesuatu, bagian penjualan bisa langsung menyampaikannya kepada orang yang bersangkutan.
Bahkan kalau ada masalah, biasanya cukup kumpul sebentar dan selesai.
Lalu bisnis mulai berkembang.
Pelanggan bertambah, karyawan semakin banyak, transaksi semakin ramai, dan pekerjaan yang harus ditangani juga ikut bertambah. Pemilik bisnis yang sebelumnya bisa mengetahui hampir semua hal, perlahan mulai kesulitan mengikuti apa yang terjadi di setiap bagian.
Anehnya, di saat angka penjualan meningkat dan bisnis terlihat semakin maju, pekerjaan sehari-hari justru terasa semakin rumit.
Informasi lebih sulit dicari. Koordinasi lebih panjang. Kesalahan kecil lebih sering terjadi. Hal yang dulu bisa selesai dalam hitungan menit, sekarang terkadang membutuhkan beberapa orang.
Di titik seperti ini, muncul pertanyaan yang cukup menarik: bisnisnya yang semakin besar, atau cara kerjanya yang memang sudah tidak cukup untuk mengimbanginya?
Dulu Satu Orang Bisa Menangani Banyak Hal
Ketika perusahaan masih kecil, satu orang biasanya memegang beberapa pekerjaan sekaligus.
Pemilik bisa ikut mengurus penjualan, mengecek stok, memantau keuangan, bahkan sesekali ikut menangani pelanggan.
Hal tersebut bukan masalah karena jumlah aktivitasnya masih terbatas.
Namun ketika bisnis berkembang, pembagian pekerjaan mulai diperlukan.
Ada orang yang fokus pada penjualan. Ada yang mengurus keuangan. Ada bagian operasional, gudang, pemasaran, sumber daya manusia, dan sebagainya.