SURAKARTA – Di dunia penerbangan, selama puluhan tahun terdapat sebuah pepatah tidak tertulis: “If it ain’t Boeing, I ain’t going.” Kalimat ini adalah bukti supremasi, kebanggaan, dan kepercayaan mutlak pasar terhadap Boeing sebagai kiblat keamanan dan inovasi kedirgantaraan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, narasi tersebut berbalik 180 derajat. Dari skandal kegagalan sensor MCAS pada 737 MAX yang merenggut ratusan nyawa, hingga insiden lepasnya panel pintu door plug di tengah penerbangan, Boeing sedang mengalami apa yang disebut oleh para pakar manajemen sebagai “Internal Cultural Decadence” atau kemerosotan budaya internal.
Ini bukan sekadar masalah teknis atau kegagalan baut. Ini adalah tragedi manajemen. Ini adalah kisah tentang bagaimana pengejaran nilai saham (shareholder value) secara membabi buta dapat membutakan perusahaan dari tujuan utamanya: keselamatan manusia.
Titik Balik: Merger yang Mengubah Jiwa Perusahaan
Akar masalah Boeing sering ditarik kembali ke tahun 1997, saat Boeing melakukan merger dengan McDonnell Douglas. Studi dari Harvard Business Review (HBR) dan laporan jurnalis investigasi Peter Robison dalam bukunya “Flying Blind”, menyoroti pergeseran budaya pasca-merger ini.
Sebelum merger, Boeing dikenal sebagai perusahaan “oleh insinyur, untuk insinyur”. Keputusan teknis adalah hukum tertinggi. Namun, kepemimpinan baru membawa budaya Wall Street yang agresif. Fokus berubah dari “Berapa berat beban yang bisa ditahan sayap ini?” menjadi “Berapa besar penghematan yang bisa kita lakukan untuk mendongkrak dividen?”
Antara tahun 2014 hingga 2018, Boeing menyalurkan sekitar $34,7 miliar untuk buyback saham (pembelian kembali saham untuk menaikkan harga), sementara investasi untuk riset dan pengembangan sering kali ditekan untuk efisiensi biaya.
Tragedi jatuhnya Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302 adalah puncak dari “Profit Over Safety”. Boeing berusaha mengejar ketertinggalan dari Airbus A320neo dengan meluncurkan 737 MAX tanpa melakukan desain ulang total agar biaya pelatihan pilot tetap murah (tidak perlu simulator baru).
Berdasarkan laporan Dewan Perwakilan Rakyat AS (House Transportation and Infrastructure Committee), ditemukan fakta bahwa Boeing sengaja menyembunyikan detail teknis sistem MCAS dari regulator (FAA) dan maskapai demi mempercepat sertifikasi.
Boeing meyakinkan FAA bahwa sistem tersebut tidak memerlukan pelatihan tambahan bagi pilot. Hasilnya? Ketika sistem mengalami malfungsi, pilot tidak tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara mematikannya secara manual.
Dalam kacamata ASA Consulting, sebuah bisnis harus berdiri di atas pilar yang seimbang. Jika pilar Marketing (target penjualan) menindas pilar Operation (kualitas dan keselamatan), maka perusahaan tersebut sedang membangun bom waktu.
Penelitian dari MIT Sloan Management Review menunjukkan bahwa organisasi yang memprioritaskan target finansial jangka pendek di atas keselamatan kerja akan mengalami biaya “reputasi” yang jauh lebih mahal di masa depan.
Boeing harus membayar denda lebih dari $2,5 miliar untuk penyelesaian tuntutan hukum, kehilangan pesanan ribuan unit pesawat, dan nilai kapitalisasi pasar yang anjlok ratusan triliun Rupiah.
Mari kita bedah kegagalan Boeing menggunakan kacamata sistem ASA:
Mungkin bisnis Anda tidak membuat pesawat, tetapi prinsipnya sama.
Ingat, reputasi yang dibangun 50 tahun bisa hancur dalam 5 menit karena satu keputusan yang tidak amanah.
Kasus Boeing adalah pengingat keras bagi kita semua bahwa “Success By Design” tidak boleh meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Sebuah perusahaan yang besar tanpa pondasi karakter yang kuat hanyalah sebuah raksasa dengan kaki tanah liat; ia menunggu waktu untuk roboh.
Apakah Anda ingin memastikan bisnis Anda memiliki pondasi yang anti-runtuh?
Di ASA Consulting, kami membantu para pengusaha untuk menyelaraskan (aligning) target profit dengan keteraturan sistem dan kekuatan karakter pemimpin. Melalui program Mentoring AOS, kami mendampingi Anda membangun infrastruktur korporasi yang tidak hanya produktif, tapi juga berintegritas tinggi dan berkah.
Jangan tunggu krisis menghancurkan reputasi Anda. konsultasikan dengan tim ASA Consulting untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap terkait Layanan Mentoring Aligning Organization System (AOS) ASA Consulting di bisnis Anda. Mari kita bedah kesehatan organisasi Anda dan bangun legacy yang akan terus terbang tinggi hingga generasi mendatang.