Jl. Ronggowarsito No.151 G, Timuran, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah

Bisnis bareng Teman, Profesionalitas Tetap yang Utama

Bisnis bareng Teman, Profesionalitas Tetap yang Utama

Justru karena teman, pembagian tugas, modal, keuntungan, hingga hak mengambil keputusan perlu dibicarakan lebih jelas. Teman yang baik bukan berarti teman yang selalu mengiyakan keputusan kita. 

Dalam bisnis, partner yang baik justru harus berani mengatakan tidak ketika sebuah keputusan dianggap merugikan usaha. Masalahnya, mengatakan tidak kepada teman sering kali terasa lebih sulit daripada mengatakan tidak kepada rekan kerja biasa.

Kalimat “tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan” memang terdengar sinis. Akan tetapi, dunia bisnis bisa dibaca sebagai pengingat agar hubungan personal tidak membuat kita kehilangan kewaspadaan profesional.

Bukan berarti teman mesti dicurigai. Justru karena ingin mempertahankan pertemanan, urusan bisnis harus dibuat sejelas mungkin.

Berapa modal masing-masing? Siapa mengerjakan apa? Bagaimana pembagian keuntungan? Bagaimana jika salah satu ingin keluar? Kemudian yang paling tidak nyaman: bagaimana jika suatu hari kalian tidak lagi sepakat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar terlalu serius ketika bisnis baru dimulai. Ketika semuanya masih baik-baik saja, pembicaraan semacam itu seharusnya dilakukan.

Ini barangkali salah satu jebakan paling umum. Kita mengenal seseorang sebagai teman karena cocok diajak berbicara, bercanda, bepergian, atau menghabiskan waktu bersama. 

Karakter yang membuat seseorang menyenangkan sebagai teman belum tentu merupakan karakter yang dibutuhkan dalam bisnis. 

Teman yang santai mungkin menyenangkan untuk diajak nongkrong, tetapi bisnis membutuhkan orang yang disiplin. Sedangkan ada pula teman yang mudah diajak kompromi mungkin terasa menyenangkan dalam pergaulan, tetapi perusahaan juga membutuhkan seseorang yang tegas.

Rekan bisnis yang sering berdebat dengan kita belum tentu merupakan teman yang buruk. Bisa jadi, justru perbedaan pandangan itulah yang membuat sebuah keputusan bisnis menjadi lebih matang.

Maka, memilih teman sebagai partner bisnis semestinya tidak berhenti soal kecocokan, tetapi apakah bisa bekerja bersama ketika tidak lagi cocok?

Bukan berarti keduanya mesti dipisahkan secara kaku dan batas yang sehat membuat keduanya bisa berjalan beriringan. Ketika urusan bisnis sedang dibahas, maka keputusan dibuat berdasarkan kepentingan bisnis. 

Setelah urusan selesai, hubungan pertemanan tidak perlu ikut dibawa menjadi medan pertempuran. Sebab, kekeliruan terbesar ketika berbisnis dengan teman adalah menganggap kedekatan sebagai pengganti aturan.

Pada akhirnya, berbisnis dengan teman bukan soal memastikan bahwa kalian akan selalu berjalan bersama. Jadi yang mesti diperhatikan dan penting adalah memastikan jika arah bisnis berubah, hubungan personal tidak harus ikut berakhir.